Segala sesuatu itu tak bisa dipaksakan. Bukan berarti menyerah, tetapi harus lebih mengenal situasi dan kondisi. Seperti halnya buah yang belum matang, jika dipaksakan supaya masak dengan cara dikarbit, tentu saja rasanya akan jauh berbeda. Kalaupun dipaksakan, siap-siap saja kita untuk kecewa terhadap hasilnya.
“Man proposes god disposes” kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, hasilnya tetap saja ada di tangan Tuhan. Yang perlu disadari adalah bagaimana cara kita melihat situasi dan kondisi kita sendiri.
Kita harus bisa mengukur kemampuan kita, apakah kita mampu atau tidak, apakah situasi mendukung atau tidak. Ada banyak faktor x yang harus dipertimbangkan dalam hal ini. Walaupun pada kenyataan, hasilnya selalu tidak sesuai dengan keinginan kita (anjink kieu kieu wae hirup teh).
Bang iwan pernah bersenandung; “keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya di dalam pikiran, tujuan bukanlah yang utama, yang utama adalah prosesnya”. Sekarang pertanyaannya adalah; apakah kita menikmati proses ini? Apakah kita mampu mengucapkan ya dengan tulus tehadap petualangan-petualangan dalam kehidupan kita?
Hese euy… kita selalu membandingkan hidup kita dengan orang lain, kita selalu melihat orang lain dengan kenikmatannya saja. Saking sibuknya memikirkan orang lain, kita lupa tujuan kita.
Om bob Marley pernah berkata “Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don’t complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealously. Don’t bury your thoughts, put your vision to reality”.
so, enjoy aja...
monologokoy
24112009





