About this blog

apapun, tentang segala sesuatu yang ingin ditulis

Pages

Sunday, November 29, 2009

turn off your tv


TV, si kotak ajaib yang mampu membuat kita bertahan berjam-jam di depannya, sungguh mempunyai daya hipnotis yang tinggi. Lihat saja, dari pagi sampai malam tv sering dinyalakan. Duduk, diam menonton, lalu berkomentar. Salahkah itu?

Tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah apa yang kita tonton. Apakah itu bermanfaat atau tidak? Apakah itu baik atau tidak? Apakah itu menyampaikan informasi yang benar atau tidak? Apakah itu berdampak positif atau tidak? Kalau jawabannya tidak, seharusnya tidak usah ditonton.

Ada beberapa poin yang saya cermati;

1. Kriminalitas. Dari pagi sampai petang, berita di tv berisikan; penipuan, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, dll.

2. Hiburan yang tidak mendidik. Kebanyakan sinetron memperlihatkan impian yang utopis; anak smp pergi ke sekolah menggunakan mobil misalnya. Adalagi sinetron yang menceritakan percintaan di kalangan anak smp.

3. Vulgaritas. Perkataan yang tidak layak diucapkan sering muncul di acara-acara televisi.

4. Gaya hidup. Inilah yang sangat saya rasakan, dampak dari gaya hidup yang dipertontonkan di televisi. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara dan cara hidup. Dari celana patlot sampai hotpants, individualistik dan arogan.

5. Iklan. Sebagai media informasi dan promosi, iklan terlalu berlebihan dan terkadang menawarkan kesemuan. Iklan juga dapat membentuk persepsi (imej) penonton, contohnya; yang cantik itu yang berkulit putih.

Tak dipungkiri, banyak acara di televisi kita adalah sampah. Lalu dimana peran lembaga sensor perfilman dan penyiaran? Kerja mereka apa? Sudahlah, jangan terlalu berharap terhadap sebuah lembaga, lebih baik matikan saja televisi. Sebagaimana teriakan Serj Tankian:


the kinda shit you get on your TV

the kinda shit that's on your TV

Turn off your TV

(Violent Pornography, Systen of a Down, Mezmerize album)


bebas lah, da abdi mah jalmi bebas

monologokoy

221109


Saturday, November 21, 2009

manusia lawan teknologi

Diberita akhir pekan ini, negara Indonesia sedang mengalami krisis listrik. PLN, yang mengatur masalah "kelistrikan", pun di omeli presiden. Fenomena yang menarik (bagi saya) adalah digunakannya kembali mesin tik oleh sebagian kantor pemda dikarenakan PC (komputer) memerlukan daya listrik. Selain itu, banyak masyarakat mengeluh dan berdemo ke pemerintah karena pekerjaan mereka terhambat karena tidak stabilnya listrik. Yang saya tangkap dari relita ini adalah sebuah ketergantungan terhadap listrik ataupun mesin.

Ketergantungan ini tidak dapat dipungkiri, contoh kecilnya; Bagaimana bila listrik di kosan mati? Atau pompa air rusak seminggu? Atau contoh yang lebih kecil nya lagi; Bagaimana bila anda ketinggalan hp? Atau komputer anda sering hang? Atau ketika di warnet tidak bisa buka facebook? Atau motor anda tidak bisa distarter di tengah perjalanan? damn! menyebalkan bukan? karena apa? Karena fungsi teknologi sudah sangat mencengkram manusia.

Pada awalnya, memang manusia membuat alat (mesin atau teknologi) untuk meringankan bebannya, tapi kini, keadaan berbicara lain. Ironic. Manusia sangat bergantung kepada teknologi, dan harus beradaptasi dengan teknologi. Maka terjadilah Reverse Adaptive, suatu keadaan dimana teknologi berbalik menjadi beban bagi manusia, karena manusia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi.

Jika hal ini dibiarkan, manusia akan menjadi mesin, manusia hanyalah sekrup-sekrup semata. Manusia diatur jadwal kuliah, oleh aturan keja tertentu, yang dilakukan secara rutin. Dan pada akhirnya, manusia terjebak dalam rutinitas dan diprogram layaknya robot tak bernyawa. Lama-kelaman kehilangan rasa kemanusiaannya.

Maka. tidak aneh, jika ada band bernama Rage Against The Machine (band favorit keur smp uy....) yang liriknya berisi isu sosial dan berusaha memanusiakan manusia.

Bukan berarti saya ingin memprovokosi anda agar anti menggunakan teknologi, tapi sekedar mengingatkan bahwa manusia harus memegang kendali teknologi, dan bukan sebaliknya.


201109

monologokoy


info : buat yang suka nge-blog

Iseng-iseng ngulik template di blog malah banyak widget yang rusak....
Biar lebih efisien, pake link di bawah ini:


Caranya; dowload aja.. gratis ko..

Saturday, November 14, 2009

kritikan

Seorang cendekiawan tiba di depan sebuah selokan, dan ragu-ragu melompat untuk menyebrang. Seorang petani memberi petunjuk, “jangan takut, tak ada yang sulit disitu, langsung sajalah melompat.” Dalam sekali gebrakan, sang cendekiawan melompat, dan langsung terjun ke dalam selokan.

Petani tadi datang, mengulurkan tangan, dan mencoba memperbaiki keadaan, “anda seharusnya tidak melompat dengan kedua kaki berbarengan.”

“Jangan banyak omong!” kata sang cendekiawan. “Dan jangan coba membantah buku. Di dalam buku tertulis: melompat adalah sebuah tindakan dengan merentangkan kaki, mengangkatnya dari tanah dengan gerakan cepat dan ke atas, lalu melangkahkan kaki yang satu, disusul oleh kaki yang lain. Aku sudah mengikuti petunjuk buku, dan engkau gampang saja menyalahkan aku, hah?”

Fenomena seperti ini sering kita temui dalam realita di sekitar kita, di mana ada sebagian orang yang mengandalkan teori tapi dalam mengaplikasikan teori tersebut mereka kelabakan. Saking banyaknya teori yang mereka tahu, mereka merasa paling benar.

Padahal kenyataanya; ada beberapa faktor x dan y yang dapat mempengaruhi teori tersebut.

Adapula sebagian orang yang mempelajari sesuatu dengan pengalaman (bahasa kerenna; learning by experience), mereka mengambil pelajaran dari eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan, lalu menyimpulkan sesuatu berdasarkan hasil eksperimen tersebut.

Dalam kasus seperti ini, kebanyakan orang hanya berteori, berargumen dan mengkritik, tidak lebih, tidak kurang. Professional critics are most person who don't have enough abilities to equal the person whom they criticise (Downing). Kritikus-kritikus profesional sebagian besar adalah orang-orang yang tidak punya cukup bakat untuk menandingi orang-orang yang mereka kritik.

Saya teringat dengan argumen Adjat Sudrajat; Besar karena cacian, sanjungan adalah racun. Terserah orang bicara apa, ketika kritik itu tidak membangun dan cenderung menyudutkan, anggap saja gonggongan anjing.




 
Photography Templates | Slideshow Software