About this blog

apapun, tentang segala sesuatu yang ingin ditulis

Pages

Sunday, December 20, 2009

petuah indian kiowa tua

anakku

tak seorangpun di belantara bumi ini

adalah sahabat sejatimu

tidak juga bapakmu, ibumu

atau saudara kandungmu

kecuali akalmu adalah sahabatmu

nuranimu adalah sahabatmu

matamu adalah sahabatmu

dengan semua yang kau miliki itu

bertualanglah kau ketingginya puncak gunung

tempuhlah belukarnya hutan rimba

arungilah liarnya jeram jeram sungai

dan kau berguru kepadanya tentang lahir, hidup, mati serta

kehidupan setelahnya

lalu kembalilah kau kepada kaummu

kelak kau akan terpilih sebagai lelaki sejati

lelaki pilihan dari kaummu

untuk itu pilihlah jalan ini


(petuah indian kiowa tua)

sumber; lupa lagi.




Sunday, November 29, 2009

turn off your tv


TV, si kotak ajaib yang mampu membuat kita bertahan berjam-jam di depannya, sungguh mempunyai daya hipnotis yang tinggi. Lihat saja, dari pagi sampai malam tv sering dinyalakan. Duduk, diam menonton, lalu berkomentar. Salahkah itu?

Tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah apa yang kita tonton. Apakah itu bermanfaat atau tidak? Apakah itu baik atau tidak? Apakah itu menyampaikan informasi yang benar atau tidak? Apakah itu berdampak positif atau tidak? Kalau jawabannya tidak, seharusnya tidak usah ditonton.

Ada beberapa poin yang saya cermati;

1. Kriminalitas. Dari pagi sampai petang, berita di tv berisikan; penipuan, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, dll.

2. Hiburan yang tidak mendidik. Kebanyakan sinetron memperlihatkan impian yang utopis; anak smp pergi ke sekolah menggunakan mobil misalnya. Adalagi sinetron yang menceritakan percintaan di kalangan anak smp.

3. Vulgaritas. Perkataan yang tidak layak diucapkan sering muncul di acara-acara televisi.

4. Gaya hidup. Inilah yang sangat saya rasakan, dampak dari gaya hidup yang dipertontonkan di televisi. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara dan cara hidup. Dari celana patlot sampai hotpants, individualistik dan arogan.

5. Iklan. Sebagai media informasi dan promosi, iklan terlalu berlebihan dan terkadang menawarkan kesemuan. Iklan juga dapat membentuk persepsi (imej) penonton, contohnya; yang cantik itu yang berkulit putih.

Tak dipungkiri, banyak acara di televisi kita adalah sampah. Lalu dimana peran lembaga sensor perfilman dan penyiaran? Kerja mereka apa? Sudahlah, jangan terlalu berharap terhadap sebuah lembaga, lebih baik matikan saja televisi. Sebagaimana teriakan Serj Tankian:


the kinda shit you get on your TV

the kinda shit that's on your TV

Turn off your TV

(Violent Pornography, Systen of a Down, Mezmerize album)


bebas lah, da abdi mah jalmi bebas

monologokoy

221109


Saturday, November 21, 2009

manusia lawan teknologi

Diberita akhir pekan ini, negara Indonesia sedang mengalami krisis listrik. PLN, yang mengatur masalah "kelistrikan", pun di omeli presiden. Fenomena yang menarik (bagi saya) adalah digunakannya kembali mesin tik oleh sebagian kantor pemda dikarenakan PC (komputer) memerlukan daya listrik. Selain itu, banyak masyarakat mengeluh dan berdemo ke pemerintah karena pekerjaan mereka terhambat karena tidak stabilnya listrik. Yang saya tangkap dari relita ini adalah sebuah ketergantungan terhadap listrik ataupun mesin.

Ketergantungan ini tidak dapat dipungkiri, contoh kecilnya; Bagaimana bila listrik di kosan mati? Atau pompa air rusak seminggu? Atau contoh yang lebih kecil nya lagi; Bagaimana bila anda ketinggalan hp? Atau komputer anda sering hang? Atau ketika di warnet tidak bisa buka facebook? Atau motor anda tidak bisa distarter di tengah perjalanan? damn! menyebalkan bukan? karena apa? Karena fungsi teknologi sudah sangat mencengkram manusia.

Pada awalnya, memang manusia membuat alat (mesin atau teknologi) untuk meringankan bebannya, tapi kini, keadaan berbicara lain. Ironic. Manusia sangat bergantung kepada teknologi, dan harus beradaptasi dengan teknologi. Maka terjadilah Reverse Adaptive, suatu keadaan dimana teknologi berbalik menjadi beban bagi manusia, karena manusia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi.

Jika hal ini dibiarkan, manusia akan menjadi mesin, manusia hanyalah sekrup-sekrup semata. Manusia diatur jadwal kuliah, oleh aturan keja tertentu, yang dilakukan secara rutin. Dan pada akhirnya, manusia terjebak dalam rutinitas dan diprogram layaknya robot tak bernyawa. Lama-kelaman kehilangan rasa kemanusiaannya.

Maka. tidak aneh, jika ada band bernama Rage Against The Machine (band favorit keur smp uy....) yang liriknya berisi isu sosial dan berusaha memanusiakan manusia.

Bukan berarti saya ingin memprovokosi anda agar anti menggunakan teknologi, tapi sekedar mengingatkan bahwa manusia harus memegang kendali teknologi, dan bukan sebaliknya.


201109

monologokoy


info : buat yang suka nge-blog

Iseng-iseng ngulik template di blog malah banyak widget yang rusak....
Biar lebih efisien, pake link di bawah ini:


Caranya; dowload aja.. gratis ko..

Saturday, November 14, 2009

kritikan

Seorang cendekiawan tiba di depan sebuah selokan, dan ragu-ragu melompat untuk menyebrang. Seorang petani memberi petunjuk, “jangan takut, tak ada yang sulit disitu, langsung sajalah melompat.” Dalam sekali gebrakan, sang cendekiawan melompat, dan langsung terjun ke dalam selokan.

Petani tadi datang, mengulurkan tangan, dan mencoba memperbaiki keadaan, “anda seharusnya tidak melompat dengan kedua kaki berbarengan.”

“Jangan banyak omong!” kata sang cendekiawan. “Dan jangan coba membantah buku. Di dalam buku tertulis: melompat adalah sebuah tindakan dengan merentangkan kaki, mengangkatnya dari tanah dengan gerakan cepat dan ke atas, lalu melangkahkan kaki yang satu, disusul oleh kaki yang lain. Aku sudah mengikuti petunjuk buku, dan engkau gampang saja menyalahkan aku, hah?”

Fenomena seperti ini sering kita temui dalam realita di sekitar kita, di mana ada sebagian orang yang mengandalkan teori tapi dalam mengaplikasikan teori tersebut mereka kelabakan. Saking banyaknya teori yang mereka tahu, mereka merasa paling benar.

Padahal kenyataanya; ada beberapa faktor x dan y yang dapat mempengaruhi teori tersebut.

Adapula sebagian orang yang mempelajari sesuatu dengan pengalaman (bahasa kerenna; learning by experience), mereka mengambil pelajaran dari eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan, lalu menyimpulkan sesuatu berdasarkan hasil eksperimen tersebut.

Dalam kasus seperti ini, kebanyakan orang hanya berteori, berargumen dan mengkritik, tidak lebih, tidak kurang. Professional critics are most person who don't have enough abilities to equal the person whom they criticise (Downing). Kritikus-kritikus profesional sebagian besar adalah orang-orang yang tidak punya cukup bakat untuk menandingi orang-orang yang mereka kritik.

Saya teringat dengan argumen Adjat Sudrajat; Besar karena cacian, sanjungan adalah racun. Terserah orang bicara apa, ketika kritik itu tidak membangun dan cenderung menyudutkan, anggap saja gonggongan anjing.




Friday, October 30, 2009

kebahagiaan

Tidak seperti biasanya, hari ini saya melaksanakan shalat jum'at di sekitaran rumah tempat saya tinggal. Biasanya saya melaksanakan shalat jum'at di masjid kampus, di kosan teman atau di masjid al-mapadiyah.Hari ini saya sampai di mesjid ketika adzan telah selesai dikumandangkan, otomatis bagian luar mesjid sudah terisi, tapi bagian dalam mesjid masih ada tempat kosong. Dengan berat hati, saya mematikan rokok karena di dalam mesjid tidak boleh merokok. Sudah lama saya tidak shalat jum'at di dalam mesjid, kebanyakan di pelataran atau di halaman mesjid. Mungkin ini sudah jadi kebiasaan.

Suasana di dalam mesjid sangatlah berbeda dengan suasana diluar mesjid. Di dalam mesjid saya dapat mendengarkan khutbah dengan sangat jelas. Daripada tidur atau melamun tidak karuan, saya memutuskan untuk mendengarkan isi khutbah.

Sang khotib pun memulai khutbahnya mangenai kehidupan manusia dan apa yang mereka cari di dunia. Pada dasarnya, manusia hidup di dunia ini untuk mencari kebahagiaan, dan kebahagiaan ini sangatlah beragam macamnya.

Pertama, kebahagiaan material. Pemuasan kebutuhan materi dapat membuat manusia bahagia. dengan mendapatkan apa yang diinginkan, manusia merasa senang,

Kedua, kebahagian mental. seperti pengakuan, citra diri dan penghargaan orang. Kebahagiaan ini lebih kepada pemuasan diri terhadap lingkungan sekitar.

Ketiga, kebahagiaan spiritual. kebahagiaan yang berasal dari penyerahan diri kepada keyakinan. (can ngerti ieu mah, can kataekan mereun)

Khotib pun menjelaskan secara rinci tiap jenis kebahagian beserta dampaknya terhadap kehidupan manusia. Pada akhirnya, terserah manusia sendiri untuk mencari kebahagian yang mereka yakini. Saya jadi berujar dalam hati; beneur oge. Apa yang dikatakan khotib serupa denga teori David Mc Clelland, dalam bukunya The Achieving Society, seperti; need of power, need of affiliation dan need of achievement.

Saya teringat lagu berjudul Seperti Matahari-nya bang Iwan, liriknya kalau tidak salah seperti ini;


keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya di dalam pikiran

tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya

kita hidup mencari bahagia, harta dunia kendaraannya

bahan bakarnya budi pekerti, itulah nasehat para nabi


Pada akhirnya, kebahagian itu tergantung dari sudut pandang manusia sendiri. Kebahagiaan itu abstrak. Kebahagiaan itu tidak dapat didefinisikan. Jujur, saya merasa bahagia ketika menginjakan kaki di puncak gunung, terserah orang akan berkomentar apa. Bagi saya, itu adalah sebuah kebahagiaan, walaupun banyak orang berkata itu tidak bermanfaat dan membahayakan diri. I live it my way!


301009

monologokoy

di sudut kamar

Wednesday, October 28, 2009

berbahasa satu

PERTAMA

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,

MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,

TANAH INDONESIA.


KEDOEA

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,

MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,

BANGSA INDONESIA.


KETIGA

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN,

BAHASA INDONESIA


Hari ini, tanggal 28 oktober, seperti yang kita ketahui, merupakan hari sumpah pemuda Indonesia. lalu apakah makna hari ini bagi pemuda di zaman sekarang? apakah masih perlu untuk diperingati? ataukah hanya menjadi sebuah perayaan saja tanpa perlu dimaknai?


Ceritanya, sumpah pemuda merupakan sebuah cita-cita luhur para pendahulu untuk menyatukan bangsa Indonesia (waktu itu masih dijajah). Moehammad Jamin beranggapan bahwa ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Lalu lahir lah teks sumpah pemuda yang didasari sebagai hasil kongres pemuda pada waktu itu.


Dalam tulisan ini, saya tidak akan terlalu condong kepada masalah sejarah ataupun bagaimana lahirnya sumpah pemuda, (karena saya bukan anak sejarah), tapi saya ingin melihat fenomena ini dalam ruang lingkup akademis saya (bahasa).


Bahasa, khususnya bahasa Indonesia, merupakan salah satu aspek yang terdapat dalam teks sumpah pemuda, dan digunakan sebagai alat untuk menyatukan bangsa ini. Pada perkembangan sekarang ini, bahasa Indonesia lah yang diakui sebagai bahasa kesatuan. bukan bahasa sunda, jawa, madura ataupun batak.


Pada kenyataannya, saya sebagai anak negeri ini, merasa miris melihat fenomena yang terjadi di sekeliling saya. di bandung, kota kelahiran saya, terdapat banyak tempat yang menggunakan bahasa inggris, seperti Pasar Baru Trade Centre, Bandung Electronic Centre, ITC, BBC, Setiabudhi Regency, Setiabudhi Apartment, dll. Bahkan, stadion PERSIB yang sedang dibangun di daerah Gede Bage pun kabarnya akan diberi nama West Java Stadium, ckckckck... Mungkin agar terlihat keren atau dianggap modern, banyak pula yang maksa menggunakan bahasa Inggris. Saya pernah melihat di daerah ITC ada banner yang bertuliskan "jual beli hp sekond" dan "terima ketok megik". Ada pula percakapan muda-mudi yang berlaga menyerupai artis dalam bicara nya (mencampur aduk indonesia dan inggris). Dan yang lebih parah lagi, ada selebritis yang berujar; "yaa,, it's ok,, saya kan seorang entertainment"


Bagi sebagian orang mungkin tidak terlalu penting, tapi bagi saya, ini merupakan sebuah "penjajahan bahasa", merupakan hal serius yang harus dibenahi oleh negara kita. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka lambat laun, Bahasa Indonesia akan mengalami penyempitan makna dan pada akhirnya punah.


Beberapa waktu lalu, terjadi pengakuan budaya Indonesia oleh negara lain, hal ini membuat geram masyarakat kita. Kita menghujat, memaki dan memperebutkan hak paten tersebut. Lalu apakah kita tidak malu menamai sebuah tempat di negara kita dengan nama asing? yang nota bene bahasa adalah budaya.


akhir kata, mari kita budayakan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar,


28 oktober 2009


monologokoy

di sudut toko menanti pembeli yang datang

Wednesday, September 2, 2009

bebas lah, da abi mah jalmi bebas

Yang terpikirkan oleh saya ketika selesai membaca sebuah buku berjudul “Negeri Senja” karangan Seno Gumira Ajidarma, adalah munculnya pandangan manusia sebagai jiwa-jiwa yang bebas. Kata “bebas” sendiri mempunyai makna implisit dan eksplisit, setiap orang mempunyai penafsiran sendiri mengenai kata ini. Dan kebanyakan orang juga terjebak dalam penafsiran kata ini. Tetapi pada hakikatnya, kebebasan merupakan hak azasi setiap manusia.

Kebebasan harus disikapi dengan pola pikir kita sendiri, karena tidak ada definisi yang jelas mengenai kebebasan. Kebebasan itu tidak mutlak. Selalu saja ada landasan yang dibuat oleh otak kita dalam memaknai kebebasan. Hal ini menimbulkan perbedaan yang sering diributkan oleh orang-orang.

Saya sangat setuju dengan pernyataan mata-mata istana (dalam buku ini), bahwa;

Kebebasan merupakan sesuatu yang mungkin dicapai siapapun yang memperjuangkannya. Kebebasan bukanlah semacam lapangan tempat siapapun bisa bermain. Kebebasan bukanlah sebuah rumah besar di mana seekor burung pun bisa terbang di dalamnya. Kebebasan bukanlah suatu suaka di mana seekor harimau kumbang yang berjalan dengan tatapan yang mengancam bisa merasa dirinya berkuasa. Kebebasan adalah suatu keadaan yang sudah berada di dalam diri setiap orang, dipenjara atau merdeka. Kebebasan adalah sesuatu yang terus-menerus diperjuangkan --dalam gerak perjuangan itulah terletak kebebasannya yang tiada tertakar hanya oleh ukurannya, tiada ternilai oleh berhasil dan tidaknya, tiada terhargai oleh yang dicapainya. Suatu perjuangan bisa dihalangi, dihentikan, dan dihancurkan, tetapi perjuangan adalah kebebasan itu sendiri. Kebebasan adalah milik mereka yang berjuang.

Pada akhirnya, kebebasan adalah diri kita sendiri.

Monday, July 27, 2009

NGACAPRUK WEH

Segala sesuatu itu tak bisa dipaksakan. Bukan berarti menyerah, tetapi harus lebih mengenal situasi dan kondisi. Seperti halnya buah yang belum matang, jika dipaksakan supaya masak dengan cara dikarbit, tentu saja rasanya akan jauh berbeda. Kalaupun dipaksakan, siap-siap saja kita untuk kecewa terhadap hasilnya.

“Man proposes god disposes” kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, hasilnya tetap saja ada di tangan Tuhan. Yang perlu disadari adalah bagaimana cara kita melihat situasi dan kondisi kita sendiri.

Kita harus bisa mengukur kemampuan kita, apakah kita mampu atau tidak, apakah situasi mendukung atau tidak. Ada banyak faktor x yang harus dipertimbangkan dalam hal ini. Walaupun pada kenyataan, hasilnya selalu tidak sesuai dengan keinginan kita (anjink kieu kieu wae hirup teh).

Bang iwan pernah bersenandung; “keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya di dalam pikiran, tujuan bukanlah yang utama, yang utama adalah prosesnya”. Sekarang pertanyaannya adalah; apakah kita menikmati proses ini? Apakah kita mampu mengucapkan ya dengan tulus tehadap petualangan-petualangan dalam kehidupan kita?

Hese euy… kita selalu membandingkan hidup kita dengan orang lain, kita selalu melihat orang lain dengan kenikmatannya saja. Saking sibuknya memikirkan orang lain, kita lupa tujuan kita.

Om bob Marley pernah berkata “Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don’t complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealously. Don’t bury your thoughts, put your vision to reality”.

so, enjoy aja...


monologokoy

24112009


Wednesday, July 22, 2009

“V” for ….?


Ketika saya menonton film kartun, saya melihat kawanan burung (entah itu bebek atau angsa atau ayam?) terbang dalam formasi “V”. Hal itu menimbulkan pertanyaan dalam benak saya; apa gunanya mereka terbang dengan posisi seperti itu?. Mengapa burung-burung itu melakukan hal bodoh??? (mungkin).

Ketika seekor burung mengepakan sayapnya, maka itu akan membuat burung-burung lain mengikutinya. Dengan terbang dalam formasi “V”, keseluruhan kawanan burung itu bisa menambah paling tidak 71 persen jarak terbang dibanding bila setiap burung terbang sendiri-sendiri.

Orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama dan rasa kebersamaan bisa sampai lebih cepat dan lebih mudah, karena mereka melakukan hal itu dengan dukungan dari yang lain.

Apabila seekor burung jatuh dari formasi, tiba-tiba dia merasa ada yang menariknya dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menempuhnya sendiri dan dengan begitu segera kembali ke formasi itu karena disemangati oleh burung yang berada di depannya.

Kalau kita memiliki naluri seperti yang dimiliki oleh seekor burung, kita akan tetap tinggal dalam formasi bersama-sama dengan orang yang mempunyai tujuan sama dengan kita.

Ketika pemimpin kawanan burung itu lelah, burung itu berputar ke belakang dan seekor burung lainnya akan mengambil alih pimpinan.

Masuk akal untuk secara bergiliran melakukan pekerjaan yang berat, baik bagi manusia maupun bagi kawanan burung yang terbang.

Burung-burung memberi tanda dari belakang untuk memberi semangat burung lainnya yang ada di depan untuk mempertahankan kecepatan mereka.

Pesan apa yang kita sampaikan apabila kita memberi tanda (semangat) dari belakang?

Ketika seekor burung sakit atau terluka atau jatuh dari formasi, dua ekor burung lainnya ikut melepaskan diri dari formasi itu bersama burung tadi dan mengikutinya turun untuk memberikan bantuan dan perlindungan. Keduanya tetap bersama dengan burung yang jatuh tadi sampai burung tadi mampu terbang kembali atau mati; dan baru keduanya meneruskan perjalanan mereka sendiri atau bergabung dengan formasi lainnya untuk mengejar kelompoknya tadi.

Kalau kita mempunyai naluri seekor burung, kita akan saling memberikan semangat seperti itu.



monologokoy

11 Juli 2009


 
Photography Templates | Slideshow Software