Yang terpikirkan oleh saya ketika selesai membaca sebuah buku berjudul “Negeri Senja” karangan Seno Gumira Ajidarma, adalah munculnya pandangan manusia sebagai jiwa-jiwa yang bebas. Kata “bebas” sendiri mempunyai makna implisit dan eksplisit, setiap orang mempunyai penafsiran sendiri mengenai kata ini. Dan kebanyakan orang juga terjebak dalam penafsiran kata ini. Tetapi pada hakikatnya, kebebasan merupakan hak azasi setiap manusia.
Kebebasan harus disikapi dengan pola pikir kita sendiri, karena tidak ada definisi yang jelas mengenai kebebasan. Kebebasan itu tidak mutlak. Selalu saja ada landasan yang dibuat oleh otak kita dalam memaknai kebebasan. Hal ini menimbulkan perbedaan yang sering diributkan oleh orang-orang.
Saya sangat setuju dengan pernyataan mata-mata istana (dalam buku ini), bahwa;
Kebebasan merupakan sesuatu yang mungkin dicapai siapapun yang memperjuangkannya. Kebebasan bukanlah semacam lapangan tempat siapapun bisa bermain. Kebebasan bukanlah sebuah rumah besar di mana seekor burung pun bisa terbang di dalamnya. Kebebasan bukanlah suatu suaka di mana seekor harimau kumbang yang berjalan dengan tatapan yang mengancam bisa merasa dirinya berkuasa. Kebebasan adalah suatu keadaan yang sudah berada di dalam diri setiap orang, dipenjara atau merdeka. Kebebasan adalah sesuatu yang terus-menerus diperjuangkan --dalam gerak perjuangan itulah terletak kebebasannya yang tiada tertakar hanya oleh ukurannya, tiada ternilai oleh berhasil dan tidaknya, tiada terhargai oleh yang dicapainya. Suatu perjuangan bisa dihalangi, dihentikan, dan dihancurkan, tetapi perjuangan adalah kebebasan itu sendiri. Kebebasan adalah milik mereka yang berjuang.
Pada akhirnya, kebebasan adalah diri kita sendiri.






1 comments:
i decided along ago
never to walk in anyone's shadow
if i fail, if i succeed
at least i live as i believe
no matter what they take from me
they can't take away may dignity
Post a Comment