Tidak seperti biasanya, hari ini saya melaksanakan shalat jum'at di sekitaran rumah tempat saya tinggal. Biasanya saya melaksanakan shalat jum'at di masjid kampus, di kosan teman atau di masjid al-mapadiyah.Hari ini saya sampai di mesjid ketika adzan telah selesai dikumandangkan, otomatis bagian luar mesjid sudah terisi, tapi bagian dalam mesjid masih ada tempat kosong. Dengan berat hati, saya mematikan rokok karena di dalam mesjid tidak boleh merokok. Sudah lama saya tidak shalat jum'at di dalam mesjid, kebanyakan di pelataran atau di halaman mesjid. Mungkin ini sudah jadi kebiasaan.
Suasana di dalam mesjid sangatlah berbeda dengan suasana diluar mesjid. Di dalam mesjid saya dapat mendengarkan khutbah dengan sangat jelas. Daripada tidur atau melamun tidak karuan, saya memutuskan untuk mendengarkan isi khutbah.
Sang khotib pun memulai khutbahnya mangenai kehidupan manusia dan apa yang mereka cari di dunia. Pada dasarnya, manusia hidup di dunia ini untuk mencari kebahagiaan, dan kebahagiaan ini sangatlah beragam macamnya.
Pertama, kebahagiaan material. Pemuasan kebutuhan materi dapat membuat manusia bahagia. dengan mendapatkan apa yang diinginkan, manusia merasa senang,
Kedua, kebahagian mental. seperti pengakuan, citra diri dan penghargaan orang. Kebahagiaan ini lebih kepada pemuasan diri terhadap lingkungan sekitar.
Ketiga, kebahagiaan spiritual. kebahagiaan yang berasal dari penyerahan diri kepada keyakinan. (can ngerti ieu mah, can kataekan mereun)
Khotib pun menjelaskan secara rinci tiap jenis kebahagian beserta dampaknya terhadap kehidupan manusia. Pada akhirnya, terserah manusia sendiri untuk mencari kebahagian yang mereka yakini. Saya jadi berujar dalam hati; beneur oge. Apa yang dikatakan khotib serupa denga teori David Mc Clelland, dalam bukunya The Achieving Society, seperti; need of power, need of affiliation dan need of achievement.
Saya teringat lagu berjudul Seperti Matahari-nya bang Iwan, liriknya kalau tidak salah seperti ini;
keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya di dalam pikiran
tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya
kita hidup mencari bahagia, harta dunia kendaraannya
bahan bakarnya budi pekerti, itulah nasehat para nabi
Pada akhirnya, kebahagian itu tergantung dari sudut pandang manusia sendiri. Kebahagiaan itu abstrak. Kebahagiaan itu tidak dapat didefinisikan. Jujur, saya merasa bahagia ketika menginjakan kaki di puncak gunung, terserah orang akan berkomentar apa. Bagi saya, itu adalah sebuah kebahagiaan, walaupun banyak orang berkata itu tidak bermanfaat dan membahayakan diri. I live it my way!
301009
monologokoy
di sudut kamar






1 comments:
wow...makin produktif aje nih blog!Fithriana like this(tanda jempol).
Post a Comment